Sekilas Perjalanan Ida Bhatara Kawitan

Logo Kawitan

Ini adalah kisah Ki Gusti Celuk keturunan Ki Gusti Kaler, kepergian beliau dari Gelgel karena terjadi kesalahpahaman terhadap Dhalem Gelgel. Selama pengabdiannya, Ki Gusti Celuk selallu menunjukkan sikap sebagai seorang ksatria, hal ini karena pikirannya yang selalu jernih serta sangat menguasai ilmu pengetahuan terutama tentang tattwa kadiatmikan. Ki Gusti Celuk meninggalkan Gelgel ke arah barat, akhirnya tiba di tepi  hutan Tambangan Badung, di sana Ki Gusti Celuk bersama istri dan empat orang putranya bermalam. Kedatangannya disambut baik oleh Arya Kenceng. Atas kebaikan Arya Kenceng seorang putra dari Ki Gusti Celuk yang bernama Ki Gusti Mangga dipersembahkan kepada Arya Kenceng. Ki Gusti Mangga sangat senang hatinya disana, oleh Arya Kenceng diberikan tempat tinggal di sekitar Puri (Jro Kutha) dan pengikut 40 orang, lama kelamaan bertambah banyaklah pengikutnya.

 

Dikisahkan Ki Gusti Celuk bersama tiga putranya melanjutkan perjalanan dari Tambangan Badung ke Desa Kapal. Setibanya di Kapal disambut oleh Ki Gusti Agung Kapal, diberikan tempat serta diberikan pengikut (prajurit) 80 orang. Tempat tinggal Ki Gusti Celuk lama kelamaan dikenal dengan nama Pesramannya Celuk, sangat terkenal keberadaannya di Kapal. Setelah beberapa lama di Kapal, Ki Gusti Celuk mempunyai seorang putri yang kemudian tumbuh remaja sebagai gadis cantik, dipersunting oleh Ki Gusti Agung Kapal (Gusti Agung Anom, abhiseka Ratu Gusti Agung Made Agung). Sedangkan keturunan Ki Gusti Celuk yang laki-laki bernama Ki Gusti Gelgel, Ki Gusti Umara, Ki Gusti Mandur, semuanya memahami ilmu sastra terutama ilmu kadyatmikan tak ada bedanya dengan orang tuanya. Ki Gusti Umara memiliki dua orang keturunan, bernama Ki Gusti Tangkeban dan Ki Gusti Biyuh. Ki Gusti Mandur juga memiliki dua orang keturunan, bernama Ki Gusti Jelantik dan Ni Gusti Ayu Cenik. Ki Gusti Gelgel tidak memiliki keturunan. Dikisahkan Ki Gusti Tangkeban mempersunting saudara sepupunya yang bernama Ki Gusti Ayu Cenik.

 

Demikian sekilas cerita singkat perjalanan Ki Gusti Celuk hingga berada di Desa Kapal.

Sumber : Aji Purana Prasasti Wangsa Celuk

 

ONG… _/\_

2 thoughts on “Sekilas Perjalanan Ida Bhatara Kawitan

  1. Apakah pura yg berada diutara pura sada itu adalah pura kawitan atau hanya merajan agung , bila melihat jumlah pratisentana yang tangkil saat odalan Ide betara sangat sedikit bila dibandingkan dg pura kawitan klan yg lain . Suksma

    • Matur Suksma atas pertanyaannya Pak Made Supartana.

      Memang jika dibandingkan dengan Pura Kawitan yang lainnya di Bali, mungkin pratisentana yang tangkil saat odalan di Pura Candirawi Kawitan Trah Ki Gusti Celuk ini memang tergolong sedikit. Saya akan sampaikan beberapa penyebabnya yang sejauh ini kami ketahui.

      1. Pura Candirawi pada awalnya hanya diketahui oleh para pengemponnya sebagai Mrajan Agung keluarga Mangku Pura Purusada saja. Sementara keluarga Pemangku Pura Purusada ini pun tidak mengetahui di mana letak Pura Kawitannya, walau pun keluarga Pemangku ini mengetahui trahnya dari Ki Gusti Celuk. Baru sejak awal tahun 2000 ada keluarga yang berada di luar keluarga yang menetap di Desa Kapal yang tergerak untuk menelusuri jejak-jejak leluhur. Berdasarkan 5 (lima) lontar yang di dapat dari beberapa tempat terpisah di Bali, akhirnya dapat ditarik benang merah yang menjadi kesimpulan bulat bahwa letak Pura Kawitan Pratisantana Ki Gusti Celuk adalah di sebelah Utara Pura Purusada, jauhnya sejauh kuatnya kita melempar batu dari Pura Purusada, dan itu tak lain adalah Pura Candirawi.

      2. Ada banyak keluarga di luar Desa Kapal yang sebelumnya mengaku keturunan Ki Gusti Celuk atau Trah Ki Gusti Celuk yang menggunakan gelar Gusti, bahkan Gusti Agung, namun setelah mengetahui bahwa keturunan Ki Gusti Celuk yang mengempon di Pura Kawitan Ki Gusti Celuk ternyata tidak menggunakan gelar Gusti maka mereka pun mendadak berubah haluan, tidak lagi mengakui Trah seperti yang sebelumnya mereka akui.

      3. Ada Merajan-merajan lainnya, yang jika ditelusuri sejarah pendiriannya adalah jauh lebih di bawah (setelah) Pura Candirawi. Namun atas dasar-dasar tertentu yang mereka buat dengan motif-motif tertentunya, mereka pun mengaku-ngaku sebagai Pura Kawitan dari Trah Ki Gusti Celuk. Ini juga termasuk yang memecah belah keluarga yang tangkil ke Pura Candirawi.

      Sebenarnya ada beberapa penyebab lainnya, namun kami menganggap masih kurang layak untuk di publikasi disini. Jika kita melihat kapan mulai diketahuinya (awal tahun 2000) bahwa Pura Kawitan Ki Gusti Celuk adalah di Pura Candirawi, di sebelah utara Pura Purusada, maka informasi ini pun masih tergolong baru. Hilangnya atau putusnya informasi tentang keberadaan Pura Kawitan ini sebenarnya sejak kejadian hancurnya kerajaan Kapal setidaknya untuk 2 (dua) kali kejadian di masa sebelumnya sebelum masa penjajahan Belanda. Kejadian hancurnya kerajaan Kapal inilah yang membuat penduduk Kapal kocar-kacir mengungsi ke berbagai penjuru di Bali dan meninggalkan begitu saja daerah Kapal.

      Semoga jawaban sekilas ini dapat menjawab pertanyaan Pak Made Supartana.
      Matur Suksma… Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s