Bhisama Ida Cokorda Agung Mangwi

BHISAMA IDA COKORDE AGUNG MANGWI KEPADA PRATISANTANA TRAH/WARIH CELUK TRAH I GUSTI AGUNG DILER

Menurut Lontar Purana Bali, diketahui bahwa pada tahun isaka 1817/1895 masehi keluarga besar Pamangku Pura Purusada yang merupakan keturunan Ki Gusti Celuk tidak masih menggunakan gelar Gusti demikian perintah Raja Mangwi. Penyebabnya adalah karena trahan Ki Gusti Celuk, menjadi sendianing Pura Purusada (orang yang dipercaya sebagai sumbu Bhatara di Pura Purusada). Walaupun demikian engkau tetap tergolong orang uttama karena engkau aku beri tugas menghaturkan upacara di Pura itu, demikian titahku.

Isi/bunyi lontar Purana Bali halaman 45 adalah sebagai berikut: ……saduk isaka 1817 Sira Pamangku Pura Purusada turunanira Ki Gusti Celuk tan manih inanggehaken Gusti mangkana sodanku Cokorde Mangwi apa matangia mangkana apan Sira trehan Celuk mangdadia sendianing Pura Purusada, nyadpada linggan Ida, twi mangkana uttama sira apan kita wolih angaturi pangayubagia jastasmat sidimandi ……………………………………………………….……………………

Di lain naskah ada pula ditemukan informasi yang sama, yaitu pada kumpulan naskah hasil penelitian dari 76 (tujuh puluh enam) naskah. Naskah-naskah tersebut ada yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing, namun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh I Made Dwi Putra Sanjaya, S.Sos, MIB, 8 April 2003. Judulnya Bali Dalam Lintasan Waktu: sejarah Politik Bali abad 10 sampai dengan Pendudukan Kolonial Belanda.

Terjemahan naskah tersebut berbunyi: “…..jatuhnya kerajaan Mengwi pun akibat di dalam keluarga terutama dilingkungan Patih Agung, sehingga memancing seperti Badung, Gianyar dan Klungkung untuk memanfaatkan pertikaian keluarga dengan kepentingan masing-masing, sehingga kerajaan Mengwi jatuh pada tahun 1891…………………………………………………………………………………………………..”

“……Pada tahun 1895 terjadi kegaduhan pada Kerajaan Mengwi sehingga orang-orang Badung (sekarang Denpasar) lagi mengadakan pemberontkan, orang-orang Mengwi (ketika itu termasuk wilayah Kapal) yang menjadi Laskar tidak masih menggunakan keningratannya, maksudnya mempertahankan hidup……………………..…”

Dari kedua informasi tersebut dapat kita ketahui bahwa Pratisantana Ki Gusti Celuk bukanlah nyineb wangsa seperti istilah umumnya di masyarakat. Namun alih jabatan sesuai Keputusan/Bhisama Ida Cokorda Agung Mengwi. Kalau di zaman sekarang kira-kira mengacu kepada SK (Surat Keputusan) alih jabatan, dari jabatan ke Arya-an menjadi Pamangku. Arya tergolong Satria wangsa, sementara Kepemangkuan seyogyanya sebagai pemuka Agama bukankah itu tergolong ke tugas Brahmana wangsa. Namun demikian pratisantana Ki Gusti Celuk tidaklah seluruhnya terkena/mematuhi Bhisama tersebut, terbukti masih ada warih beliau mengenakan predikat/nama Gusti di depan nama beliau. Hal ini mungkin disebabkan karena atas bhisama tersebut ada ketentuan khusus lagi yang kita belum temukan datanya.

Mungkin pula yang tidak terkena/tidak mengikuti bhisama tersebut adalah beliau-beliau yang termasuk berdomisili di luar kekuasaan Mengwi ketika Mengwi dikalahkan oleh Badung, dan mempunyai wilayah kekuasaan serta rakyat. Dan yang terakhir adalah mungkin beliau-beliau yang masih menggunakan nama Gusti di depan namanya karena tidak tunduk dengan Bhisama Cokorde Agung Maengwi oleh berbagai sebab (historisnya). Sebagai bukti sejarah di Pura Kawitan Pratisanta Celuk Loring Pura Purusada terdapat Palinggih Ratu Gusti, yang menurut Lontar babad Celuk dinyatakan bahwa palinggih tersebut dibuat agar pratisantana Ki Gusti Celuk mengetahui bahwa leluhur beliau sebelumnya adalah Gusti (pre Gusti=bhs.Bali).

Bila kita bandingkan di zaman sekarang untuk seorang pejabat misalkan telah dikeluarkan SK (Surat Keputusan) menjadi pejabat lainnya, maka secara otomatis pejabat tersebut tidak bisa lagi menjabat pada jabatan lamanya dan haruslah menjalankan tugas pada jabatan barunya. Kecuali kembali ada SK (Surat Keputusan) baru untuk menjalankan tugas di jabatan lamanya dari pejabat yang relevan. Akhirnya apa pun predikat/jabatan Gusti atau bukan Gusti kita besumber dari leluhur yang satu yaitu Ki Gusti Celuk trah Ki Gusti Kaler trah Arya Kapakisan. Jadi kita adalah satu keluarga, predikat tersebut disandang karena jabatan leluhur di masa lalu, bukan saat ini. Walaupun leluhurnya adalah pre Gusti tidaklah berarti sebagai pratisantana beliau yang sudah tidak lagi menyandang gelar Gusti, ikut-ikutan menjadi Gusti.

Ingat perubahan status harus disertai perubahan nama, perubahan nama mempengaruhi banyak hal yang tidak bisa hanya dilakukan sendiri (terkait masyarakat dan pemerintah). Beliau yang masih menyandang gelar Gusti/menuliskan nama Gusti di depan nama beliau, itu karena bhaktinya kepada panugrahan leluhur. Maka kita yang sudah tidak lagi menggunakan nama Gusti di depan nama itu seyogyanya tidak merubahnya, demi bhakti kepada panugrahan leluhur yang telah menetapkan hal teresebut untuk pratisantanaya. Siapa pun namanya, apa pun status sosial kita, menyandang gelar atau tidak, memangku jabatan atau tidak toh kita berasal dari Ida Bhatara Kawitan yang sama yaitu Ida Bhatara Hyang Kawitan Ki Gusti Celuk. Oleh karena itu saling harga-menghargai, saling hormat-menghormati sesama, toleransi antar sesama, terlebih lagi dalam satu ikatan keleluhuran (Kawitan) sudah seharusnya diamalkan demi bhakti kepada Ida Bhatara Kawitan yang akhirnya demi bhakti kepada Sang Hyang Parama Kawi.

Hal serupa pun terjadi pada keluarga lainnya, dimana leluhurnya pre Gusti keturunannya tidak Gusti, perubahan status seperti itu telah terjadi sudah sejak lama. Sebagai contoh penulis kutip beberapa isi lontar :

1. Lontar Gusti Brangsinga, halaman 26 muka (26.a) alih aksaranya: “ih kita sewangsaku kinabehan, ngku Hyangkasuhun kidul hana ta wakyanku ri kita mangke kita sinanggeh Arya, apan pangendanin titahku ri wekasan kita mangdadia sudra janma hana pamitangkwa ri kita aja kita lali ring kedaden apan ika ngaraning Aji, yan tan samangkana tan manggih ayu sira ri pretisentana inanggehaken kewangsan, hana juga tan inanggehaken kewangsan aja lupa kita wit sawiji samangkana samapta pawekasku”

Artinya: hai engkau anak-anakku sekalian, aku adalah Sang Hyang Kasuhun Kidul ada pesanku terhadap dirimu sekarang engkau disebut para Arya (Gusti), karena aku akan mengubah sesuai dengan keinginanku maka keturunanmu kelak tidak akan lagi memakai gelar Arya (Gusti), engkau akan menjadi sudra (Sudra artinya tidak masih menjalankan fungsi sesuai dengan tugas orang tua atau leluhur, “Sudra bukan berarti rendah”), namun ada permintaanku kepada kamu sekalian janganlah lupa tentang asal-usulmu karena hal itu disebut Aji (Aji artinya Bapak, Aji berarti leluhur), jika kamu tidak ingat akan Kawitan sudah pasti tidak menemui kebahagiaan termasuk keturunanmu, namun ada juga keluargamu tidak akan memakai gelar itu (Gusti) namun janganlah engkau lupa asal-usulmu adalah satu, demikian sabdaku kepadamu.

2. Lontar Usana Jagat Bangsul, halaman 23 muka (23.a): alih aksaranya “…….sira sinamuakendenira Sang Prabu maring Sira para Arya sadaya wenang Sira Sang Arya angunggahaken wong sor dening Sira witing Ksatria kula, marianganggehakna aja ngaku Arya nging elingakna kaluhuranta wit sangkyeng para Arya……………..”

Artinya: ……tersebutlah Sang prabu memberikan wejangan kepada seluruh Arya, boleh kamu nanti tidak masih menggunakan wangsa ke Aryan, dan boleh menggunakan sebutan di bawahnya itu (wong sor) sekarang dari seluruhnya kamu ini janganlah masih menyebut diri Gusti namun ingatlah orang tuamu turunan para Arya………………………………

3. Lontar Purana Bali, halaman 45, alih aksaranya: “……..saduk isaka 1817 Sira Pamangku Pura Purusada turunanira Ki Gusti Celuk tan masih inanggehaken Gusti mangkana sodanku Cokorde Mangwi apa matangia mangkana apan sira trehan Celuk mandadia sendianing Pura Purusada, nyadpada linggan Ida, twi mangkana uttama sira apan kita wolih angaturi pangayubhagia jastasmat sidimandi………….”

Artinya : …….pada tahun isaka 1817 atau 1895 masehi keluarga besar Pamangku Pura Purusada yang merupakan keturunan Ki Gusti Celuk tidak masih menggunakan istilah Gusti demikian perintah Cokorda Mangwi, apakah sebabnya demikian karena trehan Ki Gusti Celuk menjadi sendianing Pura Purusada (orang yang dipercaya sebagai sumbu Bhatara terhadap linggih Bhatara di Pura Purusada), walapun demikian engkau tetap tergolong orang uttama karena engkau aku beri tugas menghaturkan upacara di Pura itu demikian titahku ……………………………………

ONG… _/\_

4 thoughts on “Bhisama Ida Cokorda Agung Mangwi

    • Matur Suksma atas pertanyaan yang baik ini dari Pak Made Supartana

      Terkait hubungan Wangsa Celuk dengan Arya Kepakisan adalah sebagai berikut :

      Arya Kepakisan memiliki 2 orang anak, yaitu :
      1. Ki Gusti Nyuh Aya.
      2. Ki Gusti Asak (Ki Gusti Madya Asak atau nama lainnya lagi, Pangeran Asak.

      Ki Gusti Asak memiliki seorang Putra yang dikenal dengan nama Ki Gusti Nginte.

      Ki Gusti Nginte memiliki dua orang Putra, yaitu :
      1. Ki Gusti Kaler (Ki Gusti Pranawa atau nama lainnya lagi, Ki Gusti Kaler Pranawa, atau Ki Gusti Ngurah Agung Diler).
      2. Ki Gusti Agung Widya (I Gusti Ngurah Agung atau nama lainnya lagi, Gusti Agung Maruti).

      Ki Gusti Kaler memiliki 11 (sebelas) orang Putra, yaitu :
      1. Ki Gusti Ngurah Panidha (Lurah Panidha).
      2. Ki Gusti Ngurah Kamasan Wayahan (Lurah Kamasan Wayahan).
      3. Ki Gusti Ngurah Kamasan Ketut (Lurah Kamasan Ketut).
      4. Ki Gusti Ngurah Sidemen (Lurah Sidemen).
      5. Ki Gusti Ngurah Sampalan (Lurah Sampalan).
      6. Ki Gusti Ngurah Tambesi (Lurah Tambesi).
      7. Ki Gusti Ngurah Teges (Lurah Teges).
      8. Ki Gusti Ngurah Ubud (Lurah Ubud).
      9. Ki Gusti Ngurah Mambal (Lurah Mambal).
      10. Ki Gusti Ngurah Basangkasa (Lurah Basangkasa).
      11. Lurah Karangasem.

      Ki Gusti Ngurah Sampalan (Lurah Sampalan) memiliki seorang Putra, yaitu Ki Gusti Celuk.
      Dari sinilah asal Wangsa Celuk, yaitu 5 (lima) undag (generasi) setelah Arya Kepakisan.

      Semoga jawaban sekilas ini dapat menjawab pertanyaan Pak Made Supartana.
      Matur Suksma… Om Shanti, Shanti, Shanti Om

  1. Tityang ngaturang suksmaning manah santukan sampun preside ngicen tityang walesan! Tityang niki warih Celuk sane rarud ke desa sobangan nanging kayang mangkin makeh semeton tityang ring sobangan kari bingung ngrereh kulit! Suksma

  2. Napi jakti Ki Gusti Asak duk dumun ide metu lan nyeneng ring Gelgel , napi nike mawinan semeton tityang ring sobangan rianjekan piodalan ring rahina Macekan agung pade tangkil ke pura dasar bhuwana Gelgel? Makeh sane bingung nikang dewek ipun pasek Gelgel! Tityang nunas sunar ! Suksma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s