Bagian I

BAGIAN PERTAMA BERBAGAI CARA MENGUNGKAPKAN KISAH AWAL KEBERADAAN PULAU BALI

I. Shri Maharaja Purusada dan Patih Demang Copong (Cou Pong)

Lontar Sari Manik Tuluk Biyu Batur mengisahkan, Sanghyang Surya Raditya berpermaisurikan Sanghyang Wulan atau lain Sanghyang Ratih menurunkan Shri Maharaja Purusada. Shri Maharaja Purusada menurunkan dua orang yaitu: Sanghyang Jayengrat alias Shri Maharaja Sek Sukaranti dan Sanghyang Aji Nuk Wasir. Shri Nuk Wasir menurunkan Shri Maharaja Nuk Sukeranti yang menurunkan dua orang yaitu yang Sulung Shri Nuk Rwa adiknya Shri Nuk Wasininda. Shri Nuk Rwa sebagai raja di Jagat Goan Negeri China, rakyatnya semua Bangsa China. Dikisahkan Shri Nuk Wasir diikuti oleh para Dewa-Dewi dan Rsi meninggalkan negerinya guna menjelajah dunia, tibalah beliau di Banoa Bangsul (yang sekarang bernama Pulau Bali). Rombongan tersebut di Banoa Bangsul menyaksikan ada Parhyangan (yang sekarang disebut Pura) besar dan kecil yang senantiasa dipuja oleh masyarakat Banoa Bangsul, sehingga keadaan masyarakat menjadi tentram dan kerta-raharja.

Shri Maharaja Sek Sukaranti atau Shri Jayengrat berasal dari jagat Purusada hendak bersuka cita (anglila-cita) diiringi oleh Bala Mantrinya sebanyak 8000 orang. Shri Maharaja Purusada memerintahkan Patih Demang Copong untuk mengawal robongan tersebut, yang mana dalam perjalanan tiba-tiba Shri Jayengrat mangkat. Dengan mangkatnya Shri Jayengrat ke alam Dewata tiba-tiba muncul niat Patih Demang Copong untuk memperistri Dewi Manik Galih, namun niat tersebut ditolak oleh Sang Dewi. Akhirnya Sang Dewi mesatya gni (menceburkan diri ke kobaran api sebagai wujud kesetiaannya terhadap suami), badan dan tulang belulangnya hangus terbakar menjadi abu. Penghanyutan abu jenazah Dewi Manik Galih inilah sebagai awal kisah terbentuknya Banoa Bangsul yang pertama menurut kisah lontar Sari Manik Tuluk Biyu tersebut.

Rombongan Patih Demang Copong menghanyutkan abu Dewi Manik Galih ke dalam samudra menggunakan kapal (Jong), kapal rombongan tersebut tiba-tiba terdampar. Air lautnya berbuih kemudian mengental menjadi lumpur, tempat dimana Kapal terdampar itu sebagai cikal-bakal tanah Bali pertama kali sehingga dinamakan Gelgel Jagat Kapal, daerahnya dinamakan Desa Kapal. Atas kehendak yang Maha Kuasa dengan kekuatan sembilan matahari (Surya Sanga) dikeringkanlah lumpur tersebut, setelah ratusan tahun mengental menjadi tanah. Lokasi tersebut atas penugrahan Sanghyang Pasupati (Çiwa Nata) dinamakan Banoa Bangsul. Lama-kelamaan tanah tersebut sebagai lingga-stana Atma-Jwitan Dewi Manik Galih yang bergelar Dewi Çri Murti, Dewanya rakyat Banoa Bangsul. Di tempat itu dibangun Candi yang sangat Agung, sebagai tempat dicandikan (kadinarmeng) Atma-Jwitan Dewi Manik Galih yang dinamakan Candi Purusada.

Tidak jauh dari sana disebelah selatan Candi, ada lahan yang bernama Karang Suwung, kemudian diutara Candi itu tempat tinggalnya I Patih Demang Copong. Selanjutnya tidak jauh dari sana ada Kahyangan Krama Kapal dan juga tidak jauh dari Candi itu ada lagi Kahyangan yang dinamakan Kentel Gumi. Karena I Patih Demang Copong pernah menggoda permaisuri beliau yang bernama Dewi Manik Galih, yang berakibat beliau mesatya gni, ketika Sanghyang Çri Jayengrat mangkat dahulu. Maka ada perintah (bhisama) dari Çri Maharaja Sek Sukaranti kepada I Patih Demang Copong supaya menjadi pengempon linggihnya Hyang Maharaja Sek Sukaranti di Pura Purusada Kapal (bukan seperti kekeliruan selama ini dengan menyebut Pura Sada) dengan gelar Pemangku serta derajat ke Arya-annya diturunkan yang berlanjut hingga kini.

Candi Purusada

II. Kedatangan/turunnya Bethara Tiga ke Bali

Karena ketekunan Sira Patih Demang Copong, siang dan malam angayu bagya melaksanakan yoga-semadi di Candi Purusada, didengar ada sabda Bethara Hyang Giri Natha. Bunyinya: “wahai engkau Patih, kini aku menurunkan penugrahan terhadapmu, jangan engkau khawatir, ketahuilah olehmu pulau yang baru ini sebagai Kahyangan putra-Ku Bethara Putra Jaya serta permaisurinya Hyang Dewi Danuh. Berhentilah engkau melaksanakan Yoga semadi”. Tidak lama setelah itu tibalah Bethara Tiga yang berkahyangan masing-masing di:

1. Bethara Putra Jaya di Gunung Agung,
2. Bethara Geni Jaya di Gunung Lempuyang,
3. Bethari Hyang Dewi Danuh di Gunung Batur.

Demikianlah awal terselamatkannya bumi Bangsul sehingga masyarakat tidak kurang makan dan minum serta kerta-raharja. Dari uraian tersebut tersirat makna di Pulau Bali kala itu yaitu ketika kedatangan Shri Aji Nuk Wasir, kedatangan Bethara Tiga ke Bali di Bali telah ada masyarakat dan kehidupannya telah tentram dan kerta raharja.

Lontar Sari Manik Tuluk Biyu Batur sejauh ini termasuk lontar tertua di Bali yang juga menunjukkan hubungan Pura Purusada Kapal dengan Pura Ulun Danu Batur Kintamani (dahulu Cintamani) sebagai Purusa-Pradana.

III. Kedatangan Perkutut Putih dan Berumbun (warna-warni/panca warna) ke Bali

Lontar Sari Manik Tuluk Biyu Batur Kintamani juga menuliskan: “pada jaman kali sangara Banoa Bangsul sering mengalami goncangan, angin kencang (badai), gempa besar serta panas terik yang tak tertahankan oleh manusia. Karena kurangnya bobot Banoa Bansul, hal tersebut diketahui oleh Bethara Guru yang berstana di Gunung Mahameru di pulau Jawa (Jamba Dwipa —> istilah yang kemudian diplesetkan oleh India menjadi Jambu Dwipa agar dapat diartikan menunjuk dataran India?). Beliau bersabda kepada putra-Nya yang bernama Hyang Putra Jaya beserta permaisurinya yang bernama Dewi Danuh. Sabdanya demikian: “Wahai engkau Putra Jaya serta Dewi Danuh, sekarang ada perintahku kepadamu, sebaiknya kalian berdua berangkat ke Bangsul, disana kalian berkahyangan dikemudian hari kalianlah sebagai penembahan rakyat Bangsul”. Berangkatlah beliau berdua bewujud burung perkutut putih dan Dewi Danuh berupa burung perkutut berumbun yang bulunya berwarna-warni dinamakan Panca Warna. Ada pula panugrahan Bethara Guru berupa selembar daun tehep agar digunakan sebagai sampan.

IV. Pemindahan Lereng Gunung Semeru Ke Bali

Pustaka lainnya menuliskan Sanghyang Pasupati yang berparhyangan di gunung Semeru Jawa Timur, setelah lama melakukan yogha semadi dengan anugerah Sang Hyang Widhi Wasa dari kekuatan panca bayu yoganya lahir 7 orang putra yaitu: Bethara Hyang Gnijaya, Bethara Hyang Putranjaya, Bethari Hyang Dewi Danuh, Bethara Hyang Tumuwuh, Bethara Hyang Manik Gumawang, Bethara Hyang Manik Galang, Bethara Hyang Tugu. Pada zaman itu Balidwipa (pulau Bali) dan Selaparang (Lombok) dalam keadaan sunyi senyap, seakan mengambang di tengah laut bagaikan perahu tanpa kemudi sehingga terombang-ambing tidak tentu arah. Keadaannya tidak stabil dan mudah goyah oleh sebab itu maka dinamakan Nusa Kambangan. Mengetahui keadaan tersebut Sanghyang Pasupati memerintahkan kepada Bedawangnala, Anthabhoga, Naga Basukih dan Naga Taksaka untuk memindahkan sebagian lereng gunung Semeru ke Pulau Bali dan Lombok. Dengan kerjasama yang kompak tugasnya dapat terlaksana dengan baik dan tiba di Bali pada Kemis Keliwon, Merakih, sasih Kedasa, Tilem, rah 1, tenggek 1 atau tahun Saka 11 sekitar bulan April 89.

Atas titah Sanghyang Pasupati Bethara Hyang Putranjaya, Bethari Hyang Dewi Danuh dan Bethara Hyang Gnijaya diperintahkan ke Bali. Ketiga Bethara Hyang tersebut dengan kekuatan yoga dimasukkan secara gaib ke dalam seludang kelapa gading, berangkatlah beliau ke Bali melalui dasar laut. Tidak dikisahkan dalam perjalanan tibalah beliau di Giri Tolangkir yang sekarang bernama Gunung Agung. Kemis wage, tolu bulan purnama, sasih kasa, rah 7, tenggek 2 atau tahun Saka 27 sekitar bulan Juli 105 Gunung Agung meletus selama dua bulan. Selasa keliwon, Kulantir, bulan purnama, Saka 31 sekitar Nopember 109 gunung Agung meletus kembali, pada saat itu tampak keluar Bethara Hyang Putranjaya disertai adiknya Bethari Hyang Dewi Danuh turun menuju Besakih. Bethara Hyang Putranjaya bergelar Bethara Hyang Mahadewa. Berikutnya datang pula kakak beliau dan selanjutnya masing-masing berparhyangan di:

1. Bethara Hyang Gni Jaya di Gunung Lempuyang,
2. Bethara Hyang Putranjaya bergelar Mahadewa di di gunung Agung Besakih,
3. Bethari Hyang Dewi Danuh di ulun Danu Batur.

Atas titah Sanghyang Pasupati berselang beberapa lama kemudian turun pula di Bali para Bethara Hyang yaitu:

1. Bethara Hyang Tumuwuh yang kemudian berparhyangan di gunung Batukaru,
2. Bethara Hyang Manik Gumawang yang kemudian berparhyangan di gunung Beratan,
3. Bethara Hyang Manik Galang yang kemudian berparhyangan di Pejeng,
4. Bethara Hyang Tugu yang kemudian berparhyangan di gunung Andakasa.

Tahun Saka 55 atau 133M Bethara Hyang Gnijaya melakukan yoga di gunung Agung, atas anugerah Sang Hyang Widhi Wasa dari kekuatan panca bayu dan yoganya lahirlah seseorang yang kemudian bergelar Mpu Withadharma alias Çri Mahadewa. Tahun Saka 82 atau 160M Mpu Withadharma melahirkan 2 orang putra yang setelah di dwijati bergelar:

1. Mpu Bajrasattwa alias Mpu Wiradharma putra sulung,
2. Mpu Dwijendra alias Mpu Rajakretha putra kedua.

Selasa keliwon, julungwangi, sasih karo, tanggal pisan, candra sangkala: naga wulan sitangsu atau tahun Saka 118 sekitar Agustus 196, Bethara Gnijaya dan Bethara Mahadewa melakukan yoga di gunung Agung. Ketika itu gunung Agung meletus mengeluarkan lahar panas bagaikan banjir api. Berkat yoganya Bethara Mahadewa lahirlahlah 2 orang yaitu:

1. Putra sulung bernama Bethara Ghana dan
2. Adiknya bernama Bethari Manikgni.

Keduanya kemudian kembali ke gunung Semeru disana beliau melakukan yoga memuja Sanghyang Pasupati.

Mpu Bajrasattwa alias Mpu Wiradharma menurunkan Mpu Tanuhun atau Mpu Lampitha. Mpu Dwijendra (bukan Danghyang Dwijendra) alias Mpu Rajakretha menurunkan 3 orang yaitu: Gagaking yang sulung, Bubuksah kedua yang bungsu Brahmawisesa. Mpu Tanuhun atau Mpu Lampitha berputra 5 orang yaitu: Yang sulung bernama Brahmana Pandita, yang kedua bernama Mpu Semeru alias Mpu Mahameru, yang ketiga bernama Mpu Ghana, dan yang keempat bernama Mpu Kuturan alias Mpu Rajakretha, yang bungsu bernama Mpu Bharadah alias Mpu Paradah. Kelima Mpu bersaudara tersebut disebut Panca Pandita atau Panca Tirtha beliau kembali ke gunung Semeru Jawa Timur. Tujuannya menuntut ilmu dengan menjalankan kehidupan sebagai yogi layaknya Brahmana, dengan taat dan tekun memuja Sanghyang Pasupati. Disanalah Mpu Panca Tirtha mendapat petunjuk dari Sanghyang Pasupati yang antara lain: “cucuku sekalian dengarlah baik-baik, jangan lupa pelaksanakan keparamarthan, kesucian, kepanditan dan jalan menuju moksah serta selalu taat dengan ajaran trikaya parisuda. Disamping selalu ingat memuja leluhur yang ada di Bali dengan melaksanakan Pujawali Ida Bethara. Kelak dikemudian hari bila ada keturunanmu juga harus disampaikan, karena bila keturunanmu tidak melaksanakan pesan ini bukanlah keturunanmu namanya, semoga turun derajatnya.”

Bersambung…

ONG… _/\_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s