Bagian II

BAGIAN KEDUA KEDATANGAN BETHARA GUNUNG RAUNG DI BALI

Dalam Lontar Markandeya Purana dijumpai ada kalimat yang arti bebasnya demikian: “….ini harus diketahui dari asal-usul adanya dunia ini, asal-usul adanya Pura Besakih, sebenarnya adalah demikian. Sebelum ada apa-apa, kecuali baru ada kayu di dalam hutan belantara, sebelum ada laut sempit bernama pulau Panjang , dan ketika itu wilayah ini disebut pulau Dava (Jawa). Di gunung Raung (sekarang Jawa Timur) ada seorang Yogi bernama Sang Yogi Markandeya. Sang Yogi Markandeya berasal dari India, sebagian besar rakyatnya menyebut beliau Bethara Gunung Raung karena ketinggian ilmu keutamaan/bathinnya dan sangat “manjur”…………”dan seterusnya.

Gunung Raung

Maharsi Markandeya setelah lama bertapa di pegunungan Damalung dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, beliau me”tirtha yatra” atau mensucikan diri ke arah timur (tahun 730 Masehi). Suatu ketika beliau tiba di Gunung Raung Jawa Timur. Setelah lama di gunung Raung Sang Maharsi kembali meneruskan tirta yatranya ke arah timur sehingga tiba di Banoa Bangsul, diiringi oleh muridnya sebanyak 800 orang. Beliau ke Banoa Bangsul guna menyebarkan demi menyelamatkan ajaran-ajaran dan filsafat Tri Sakti Paksa atau paham Tri Sakti. Ajaran yang antara lain disebut paham Waisnawa serta tatacara upacara selengkapnya.

Rombongan setiba di Banoa Bangsul menuju Tolangkir (sekarang dinamakan Gunung Agung), di lereng gunung tersebut rombongan merabas hutan. Namun banyak murid-murid Maharsi Markandeya yang meninggal dunia terkena penyakit, oleh karena itu Maharsi Markandeya kembali ke gunung Raung melakukan tapa semadi, memohon keselamatan bersama murid-muridnya di Banoa Bangsul. Setelah mendapat penugrahan dari junjungannya beliaupun kembali ke Banoa Bangsul dengan diiringi 400 orang murid.

Sekembali Sang Maharsi di Gunung Agung, para muridnya yang masih hidup telah memiliki perumahan. Selanjutnya Maharsi Markandeya bersama murid-muridnya menanam benda yang disebut Pancadhatu, sebagai pengusir bahaya yang pernah menimpanya dahulu. Pada awal abad ke 8 disanalah Rsi Markandeya membangun Parhyangan sebagai tempat persembahyangan (Pura Basukihan). Dengan menanam Pancadhatu diperoleh keselamatan, selamat dalam bahasa Jawanya adalah basuki, keselamatan=basukihan. Setelah lama menetap di Gunung Agung, Maharsi bersama muridnya pergi ke suatu tempat yang kemudian diberi nama Puakan di daerah Tegalalang. Lama kelamaan tempat tersebut diberi nama Sarwada, kemudian nama Sarwada itu menjadi Taro hingga sekarang.

Kemudian Maharsi Markandeya memindahkan Parhyangannya di Gunung Raung ke Desa Taro dengan nama Parhyangan Gunung Raung. Bila kata Parhyangan diganti kata Pura maka menjadi Pura Gunung Raung. Oleh Sang Maharsi dibangun pula Parhyangan Widhi di Campuhan, sebagai penghapusan sepuluh noda manusia atau pengeleburan dasa mala. Nama Parhyangannya adalah Parhyangan Puncak Payogan yang juga disebut Pura Gunung Lebah.

Di tepi sungai Oos juga dibangun Pasraman Rsi Markandeya bersama murid-muridnya keluarga dari Bhujangga Waisnawa. Selain itu Maharsi Markandya meninggalkan Kahyangan di gunung-gunung yang kemudian dikenal sebagai Pura Sad Kahyangan.

Bersambung…

ONG…_/\_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s