Bagian III

BAGIAN KETIGA PEMERINTAHAN BALI MANDIRI PERTAMA

1. Çri Keçari Warmadēwa (Saka 835/913M)

Prasasti berangka tahun Saka 804, 813, 818 dan 833/882, 891, 896 dan 911M, bahasa Bali kuno tertulis adanya pemerintahan Singha Mandawa. Prasasti yang berangka tahun Saka 804/882M selain tertulis nama pemerintahan Singha Mandawa, juga tertulis mantra Budha yang berbunyi: “Ye dharma prabhawa, hetun tesan tathagato hyawadat, tesanca yo nirodha, ewam wadi mahacramanah”.

Mantra tersebut sama dengan mantra yang tertulis di atas pintu Candi Kalasan Jawa Tengah dengan tahun Saka 700/778M. Hal itu mengisyaratkan bahwa sebelum Agama Budha ke Bali terlebih dahulu berkembang di Jawa, pada pemerintahan Singha Mandawa masuk ke Bali. Selain tertulis mantra Budha, prasasti tersebut juga menuliskan pemberian ijin kepada beberapa Bhiksu untuk membangun pertapaan dan pesangrahan di daerah perburuan bukit Cintamani (Kintamani).

Pada prasasti berangka tahun Saka 813/891M tertulis pemberian ijin kepada orang-orang Desa Turunan yang kemudian menjadi Desa Tarunyan sekarang bernama Desa Terunyan, untuk membangun bangunan suci guna memuliakan dan memuja Bethara Da Donta. Bangunan suci yang dimaksud sekarang bernama Pura Pancering Jagat. Prasasti berangka tahun Saka 804-864/882-942M diketahui adanya nama keraton Singha Mandawa.

Dalam huruf Bali tulisan “pa” hampir sama dengan “wa”, dengan demikian Singha Mandawa berarti keraton Singha, kata Mandawa berasal dari kata Mandapa yang artinya istana atau tepatnya pendapa istana. Kata Singha juga didapatkan pada prasasti berbentuk pilar yang tingginya 177Cm, diameter 62Cm di Belahjung (Belanjong) Sanur berangka tahun Saka 835 atau 913M. Pada bagian atas pilar bermahkota bunga teratai, gaya ukiran mahkotanya serupa benar dengan pilar-pilar yang terdapat di Malaya ataupun Çriwijaya. Pada prasasti tersebut tertulis Singha Dwara yang bermakna pintu masuk keraton Singha, dengan demikian ada hubungannya antara Singha Dwara dengan Singha Mandawa.

Menurut penulisan Narenda Dev. Pandit Shastri dalam bukunya Sejarah Balidwipa dikatakan prasasti yang menyebut-nyebut Kerajaan Singha Mandawa ada enam belas buah. Tujuh prasasti tidak menyebut nama raja atau pemerintahan seperti: prasasti Pura Desa Sukawana Saka 804, prasasti Bebetin Saka 818, prasasti Pura Desa Gobleg Saka 836, dua buah prasasti Terunyan Saka 813 dan 833, prasasti Pura Kehen Bangli dan Anggasari tanpa tahun. Sedangkan selebihnya yaitu sembilan prasasti menyebut nama raja Ugrasēna Çri, dengan demikian Ugrasēna Çri adalah keturunan dari Çri Keçari Warmadēwa.

Sebuah piagam mempergunakan Candra Sangkala berbunyi: “KhēÇara wahni murti” atau Saka 835 atau 913M berbahasa Bali kuno, diketahui adanya pemerintahan Çri Keçari Warmadēwa pusatnya di Singhamandawa yang sering juga disebut Bhumi Kahuripan di sekitar Pura Besakih. Keçari bermakna Singha dan Warmadēwa adalah identitas dinasti yang pernah berkuasa di Bali. Dalam Raja Purana disebutkan ada seorang Raja yang berkuasa di Bali bernama Çri Wira Dhalem Keçari yang tiada lain adalah Keçari Warmadēwa. Beliau amat tekun memuja Dewa-Dewa yang berparhyangan di Gunung Agung, tempat pemujaan tersebut bernama Mrajan Salonding atau Mrajan Keçari Warmadēwa. (huruf Ç = Sh, jadi Çri = Shri, Keçari = Keshari).

Gedong Mrajan Salonding

Keberadaan Pura Besakih ketika itu masih sangat sederhana oleh Çri Keçari Warmadēwa atau Çri Wira Dhalem Keçari tahun 917M dilengkapi beberapa Pura yang kemudian diberinama: Pura Gelap, untuk memuliakan dan memuja Iswara, Pura Kiduling Kreteg untuk memuja dan memuliakan Brahma, Pura Ulun Kulkul untuk memuja dan memuliakan Mahadewa, Pura Batumadeg untuk memuja dan memuliakan Wisnu, Pura Dalem Puri untuk memuliakan dan memuja Durga, Pura Basukihan untuk memuja dan memuliakan Naga Basukihan. Çri Keçari Warmadēwa atau Çri Wira Dhalem Keçari pula yang memerintahkan rakyat Bali agar merayakan hari Nyepi setiap tahun pada sasih Citramasa atau Kesanga yang jatuh sekitar bulan Maret.

Warmadēwa adalah suatu gelar keturunan Wangsa Syailendra di Kerajaan Çriwijaya Sumatra Selatan, datang ke Bali dalam rangka mengembangkan Agama Budha aliran Mahayana. Mengingat Kerajaan Çriwijaya adalah pusat pengembangan Agama Budha Mahayana di wilayah Asia. Selain itu ternyata di Bali juga memegang tampuk pimpinan pemerintahan, terbukti keturunannya kebanyakan mempergunakan identitas Warmadēwa sebagai tanda bahwa mereka keturunan Keçari Warmadēwa.

Sebuah contoh nyata dari Çri Keçari Warmadēwa, bahwa beliau datang ke Bali untuk menyebarkan Buddha Mahayana, namun tidak menghilangkan Pura Basukihan yang dibuat oleh Maharsi Markandeya. Bahkan ikut andil membangun tempat-tempat pemujaan Dewa-Dewa, karena yang disebarkan adalah keutamaan pengetahuan yang sejati.

2. Çri Ugrasēna (Saka 837-864/915-942M)

Adanya pemerintahan Çri Ugrsena diketahui berdasarkan 9 buah prasasti yang berangka tahun Saka 837-864/915-942 M, kesembilan prasasti tersebut berhubungan dengan Singha Manadawa. Kata pembukaan pada prasasti tersebut: “Yumu pakatahu” yang berarti ketahuilah, kemudian kata penutupnya “Turun di Pangalapuan Singha Mandawa” tidak ada bedanya dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Singha Mandawa lainnya. Kecuali prasasti yang didapat di Bbahan berbeda pembukaannya, karena ditemukan hanya selembar plat tembaga sementara prasasti yang lain dua lembar, prasasti ini menuliskan nama Sang Ratu Çri Ugrasēna.

Dalam sebuah pustaka kuno tertulis: “Tan titanan lawas ira haneng wihara i Parhyangan Puncak Payogan, i pancampuhaning banyu Oos, wakasan ri Saka 858 wulan palguna ri saklaning tritya, ri pajenengan sira Sang Ratu Çri Ugrasēna ri Balidwipa mandala…..” dan seterusnya. Artinya tidak dikisahkan lamanya ada di Wihara atau Parhyangan Puncak Payogan, di Campuhan (pertemuan sungai-sungai) Sungai Oos, kemudian tahun Saka 858 sasih kewulu (sekitar Februari 936), tatkala berkuasanya Sang Ratu Çri Ugrasēna di pulau Bali…..” dan seterusnya.

Sembilan prasasti yang berangka tahun Saka 837-864/915-942M, garis besarnya menuliskan nama seorang raja yaitu Ugrasēna yang berkuasa di Bali, sedang di Jawa Timur waktu itu diperintah oleh Raja Sendok atau Sindok. Penulisan tersebut mengisyaratkan bahwa pemerintahan Çri Ugrasēna di Bali sezaman dengan Raja Sendok di Jawa Timur.

3. Agni Nripati (Saka 841-875/953-953 M)

Di Desa Pejeng terdapat dua prasasti di atas batu yang tulisannya sudah tidak jelas, salah satunya hanya terbaca candra sangkala yang berbunyi: “mantra marga manusasana”, padanan dalam tahun Saka 841/919M. Prasasti yang lainnya pada dasarnya menginformasikan bahwa setelah terbakarnya istana Agni Nripti, beliau mendirikan arca pratima Punta Hyang pada tahun Saka 875/953M. Punta Hyang berarti Mahaguru atau Maharsi Agastya.

4. Tabanēndra Warmadēwa (Saka 877-889/955-967 M)

Di daerah Kintamani ada empat prasasti berangka tahun Saka 877-889, dikeluarkan atas nama Sang Ratu Aji Tabanendra Warmadēwa dengan permaisuri Ratu Çri Subadrika Warmadewi. Adanya raja tersebut juga ditemukan pada tiga prasasti di Manik Liu yang berangka tahun Saka 877/955 M, bulan Srawana, tanggal 1, menuliskan nama raja tersebut di atas. Prasasti di Kintamani yang berangka tahun Saka 889/967M, bhadrapada, çuklapaksa, tanggal 6, diantaranya tertulis: Sang Ratu sang sidha dewata sang lumah di air madatu. Yang maksudnya adalah raja Çri Ugrasēna.

5. Candrabhaya Singha Warmadēwa (Saka 878-896/956-974M)

Adanya raja Candrabhaya Singha Warmadēwa diketahui dari beberapa buah prasasti, Çri Candrabhaya Singha Warmadēwa berkuasa di Bali selama 18 tahun, sejak tahun Saka 878-896/956-974 masehi. Pada piagam dari batu di Desa Manukaya Tampaksiring tertulis: “Swasti Çakawarsa tita 884 Kartika Çukla(tra) yodani, rgaspasar wijayapura, tatkala sang ratu (Çri) Candrabhaya Singha Warmadēwa, mesamahin tirtha Mpul…….” dan seterusnya. Yang berarti pada tahun Saka 884, sasih kapat, ketika bulan terang 13 (tanggal ping 13) sekitar Oktober 962, hari pasaran kajeng, pada waktu itulah Baginda Raja Çri Candrabhaya Singha Warmadēwa membangun permandian Tirtha Mpul.

Pura Tirtha Empul

Di Pura Sakenan Desa Manukaya ada sebuah batu bertuliskan huruf Bali yang ditutup kain putih, setiap tahun diupacarai di Tirtha Mpul. Tulisan tersebut telah dibaca pertama oleh Dr Stuuerhein dalam bukunya “Oudheden van Bali” tulisan pada batu tersebut ditulis pada tahun Saka 884/962M. Nama raja yang tersebut pada tulisan itu adalah “Candra Bhaya Singha Warmadēwa” yang selanjutnya mendirikan Tirtha Mpul. Kedua dibaca oleh Dr L.C.Damais sarjana Prancis nama raja yang tertulis adalah E(e) Jaya Singha Warmadēwa tahun Saka 882atau 960M. Sumber-sumber pustaka lainnya menuliskan pendiri Tirtha Mpul pada tahun Saka 884/962M adalah Candrabhaya Singha Warmadēwa, seandainya tulisan tersebut masih utuh mungkin saja nama raja yang dimaksud adalah Candrabhaya Singha Warmadēwa?

6. Jana Sadhu Warmadēwa (Saka 897/975M)

Adanya nama raja Jana Sadhu Warmadēwa diketahui dari Prasasti di Desa Sembiran Buleleng yang berangka tahun Saka 897 atau 975M, disana tertulis nama Sang Ratu Çri Jayasadhu Warmadēwa. Selain itu tertulis juga bahwa bila pertapaan Dharmakuta rusak diwajibkan penduduk Desa Jula Tejakula Buleleng mengadakan perbaikan dibantu oleh Desa Indrapura, Bubun Dalam dan Hiliran. Bila terjadi perang atau perampokan di pertapaan Dharmakuta penduduk Desa Jula wajib mempersenjatai diri dan memberi bantuan.

Bersambung…….

ONG… _/\_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s