BAGIAN IV

BAGIAN KEEMPAT PEMERINTAHAN BALI AMBIGU

1. Wijaya Mahadēwi (Saka 905/983M)

Pada prasasti di Pura Desa Gobleg tertulis nama Ratu Çri Maharaja Çriwijaya Mahadēwi, prasasti tersebut merupakan sambungan prasasti yang berangka tahun Saka 836/914M, yang dikeluarkan oleh Singha Mandawa. Prasasti yang berangka tahun Saka 905/983M dimulai dengan kata “punah” sama dengan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Jana Sadhu Warmadēwa. Di dalamnya tertulis “ditatkalan Çriwijaya Mahadēwi masuruhang padukanda siwyan dini di Bali”. Dari penulisan tersebut ternyata bahwa Ratu Çriwijaya Mahadēwi dihormati di Bali.

Di Frank Furt Jerman ada tersimpan prasasti bertuliskan “Çri Mahadēwi siniwi di Kediri” yang berangka tahun Saka 859/937M. Dari penulisan tersebut diketahui bahwa Çri Mahadēwi dimuliakan di Kediri, mungkinkah ketika itu Bali berada di bawah kekuasaan Kediri? Atau sebaliknya, Kediri yang berada di bawah kekuasaan Bali? Prasasti Jula di Desa Sembiran Tejakula Buleleng bertahun Saka 905/983M tertulis nama seorang Ratu yaitu Çri Wijaya Mahadēwi. Sebuah prasasti lainnya berangka tahun Saka 859 atau 937M ada kalimat: “Çri Mahadēwi siniwi di Kediri” artinya Çri Mahadēwi dijunjung atau dimuliakan di Kediri. Kalau prasasti tersebut aslinya tersimpan di Frank Furt maka yang di Desa Jula salinan atau sebaliknya.

Bersambung…

ONG… _/\_