BAGIAN V

BAGIAN KELIMA PEMERINTAHAN BALI MANDIRI KEDUA

1. Çri Gunaprya Dharmapatni-Dharmodayana Warmadēwa (Saka 910-933/998-1011M)

Udayana Warmadēwa yang bergelar Dharmodayana Warmadēwa atau Dharma Udayana Warmadēwa. Beliau keturunan dari Çri Keçari Warmadēwa lahir di Bali tahun Saka 885/963 M. Naik tahta tahun Saka 910 pada usia 25 tahun, memerintah Bali selama 23 tahun hingga tahun Saka 933/1011M. Dengan pusat pemerintahan terletak di antara Desa Bedulu dan Pejeng. Permasurinya bernama Mahendradatta bergelar Çri Gunaprya Dharmapatni, adik dari Raja Dharmawangsa, Raja Mataram Hindu atau Mataram Kuno di Jawa Timur.

Terkait Mahendradatta sebuah sumber menuliskan demikian, Raja Sindok sebagai peletak dasar Wangsa Isana tahun 928M memerintah di Mataram. Raja Sindok lebih dikenal dengan sebutan Mpu Sendok. Kedudukan beliau sebagai raja digantikan oleh puterinya yang bernama Dewi Tunggawijaya. Dewi Tunggawijaya digantikan oleh puteranya yaitu Çri Makutawangsa. Makutawangsa berputera dua orang yaitu Dharmawangsa dan Mahendradatta. Dharmawangsa menjadi raja bergelar Çri Teguh Dharmawangsa, menurunkan dua puteri yang salah satunya dinikahkan dengan Airlangga putera dari Mahendradatta.

Dalam prasasti Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung berangka tahun Saka 923/1001M disebutkan adanya seorang Ratu atau Raja Putri bernama Gunaprya Dharmapatni memerintah Desa Sading dibantu suaminya Dharma Udayana. Sading berasal dari kata Sad dan Ing yang bermakna tinggal, karena suatu hal masyarakat beramai-ramai meninggalkan Desanya sehingga disana tertinggal satu keluarga saja, kata Sad Ing itulah lama kelamaan menjadi kata Sading. Sejak masa pemerintahan raja suami istri ini mulai dipakai bahasa Jawa kuno dalam penulisan prasasti-prasasti, dimana sebelumnya menggunakan bahasa Bali kuno.

Prasasti berangka tahun Saka 911/989M yang menuliskan nama Sang Ratu Luhur Çri Gunaprya Dharmapatni dan Sang Ratu Maruhani Çri Dharmodayana Warmadēwa, isinya persetujuan izin oleh raja sebelumnya (nama raja sebelumnya tidak disebutkan). Prasasti yang berangka tahun Saka 915/993M juga menuliskan nama Sang Ratu Luhur Çri Gunapryadharmapatni dan Sang Ratu Maruhani Çri Dharmodayana Warmadēwa, tentang persetujuan raja terhadap izin yang dikeluarkan oleh Çri Ugrasēna di Singha Mandawa dan seterusnya. Prasasti terakhir dari Dharmodayana Warmadēwa tahun Saka 933/1011M sesudah itu Adnya Dewi telah mengeluarkan prasasti. Dharmodayana Warmadēwa mempunyai 3 orang putra yaitu:

a. Airlangga menjadi raja kerajaan Mataram Hindu atau Kahuripan di Jawa Timur tahun 1010M bergelar Rake Çri Halu Lokacwara Dharmawangsa Airlangga Ananta Wikramattunggadewa, mangkat 1041M.

Pernikahan Airlangga dengan permaisuri yang puterinya Dharmawangsa, mempunyai seorang puteri sebagai putera Mahkota. Dan dari selir mempunyai dua orang putera yaitu: Lembu Amisena dan Lembu Aminalur. Berhubung putera mahkota mengundurkan diri, maka kedua putera dari selir, merasa sama-sama berhak menjadi raja. Untuk menghindari perang saudara Airlangga mengutus Mpu Bharadah ke Bali agar menemui Mpu Kuturan (kakaknya Mpu Bharadah), guna meminta warisan sebagai raja namun permintaan ditolak. Pertama kali Mpu Bharadah ke Bali mengunjungi Gunaprya Dharmapatni dan berkunjung ke Pura Besakih. Tercatat dalam prasasti Batumadeg dengan candra sangkala: “Lawang Apit Sanga” yaitu Saka 929 atau 1007M. Akhirnya tahun 1041M kerajaan Mataram Hindu dibagi dua yaitu:

-> Kediri atau Daha di bawah Lembu Amisena,

-> Jenggala dibawah Lembu Aminalur.

Pada masa pemerintahan Prabu Airlangga Mpu Kanwa menulis Kekawin Arjuna Wiwaha.

b. Marakata yang bergelar Dharmawangsa Wardhana Marakata Pangkaya Sthanottunggadewa, namanya tertulis dalam prasasti sejak Saka 944-947/1022-1025M. Menggunakan nama Dharmawangsa karena ibunya yaitu Mahendradatta adalah puteri dari Dharmawangsa, Tunggadewa menunjukkan keturunan dari Raja Sindok yang lebih dikenal Mpu Sindok. Pada prasasti Tengkulak disebut: “Wke (putera Aji Dewata Sang Lumah ring Air Weka)”

c. Anak Wungsu

Ketika sedang hamil putra ketiga, Çri Gunaprya Dharmapatni mengalami sakit keras, beliau mangkat setelah melahirkan putra bungsu. Abu jenazah Çri Gunaprya Dharmapatni di candikan di Buruan Kutri, sekarang menjadi Pura Bukit Dharma. Karena beliau dianggap sebagai perwujudan Uma Dewi, Çiwapaksa atau penganut paham Çiwa maka disimbulkan dengan Mahisa Mardani Asthabuja. Ketika Shri Udayana mangkat abu jenazahnya dicandikan di Banu Wka sebagai seorang Çiwapaksa sebab beliau menganut Agama Çiwa.

ArcaDurga
PuraBukitDharma
Pura Bukit Dharma, tempat dicandikannya abu Çri Gunaprya Dharmapatni

Perkawinan antara orang Bali dengan orang Jawa ini menyebabkan terjadinya zaman pembaharuan disegala aspek kehidupan, yang memberi corak tersendiri bagi kehidupan masyarakat Bali. Penduduk Bali secara mayoritas kala itu menganut 6 sekte agama, akibatnya terjadi gesekan lalu timbul pertentangan-pertentangan, kemudian meningkat menjadi ketegangan antara satu sekte dengan sekte lainnya. Ketegangan tersebut menjadi problema sosial di masyarakat yang harus mendapat perhatian pemerintah, demi terciptanya keamanan dan ketertiban.

Kedatangan Empat Orang Mpu Bersaudara

Mendampingi pemerintahan Gunaprya Dharmapatni-Udayana Warmadēwa, didatangkan 4 orang Brahmana atau Rohaniwan bersaudara dari Jawa Timur, yaitu:

1) Mpu Smeru, penganut aliran Çiwa (Çiwaisme), tiba di Bali hari Jumat Kliwon, wara pujut, purnamaning kawolu, candra sangkala jadma siratmaya muka atau Saka 921 yaitu sekitar Februari 999. Yang kemudian berparhyangan di Besakih sebagai pengempon Parhyangan Bethara Putranjaya yang bergelar Mahadewa.

2) Mpu Ghana, penganut aliran Ganapatya, tiba di Bali Senin Keliwon, wara Kuningan, tanggal 7, Saka warsa 922/1000M. Selanjutnya berparhyangan di Gelgel. Parhyangan tersebut sekarang menjadi Pura Batur Penganggih kemudian menjadi Pura Dasar Bhuwana Gelgel.

3) Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha aliran Mahayana, tiba di Bali Rebo Keliwon, wara Pahang, maduraksa tanggal 6, candra sangkala agni suku babahan yaitu Saka 923/1001M. Selanjutnya berparhyangan di Padang, sekarang Parhyangan tersebut bernama Pura Silayukti di Padangbai.

4) Mpu Gnijaya, penganut aliran Brahmaisme, tiba di Bali Kemis Keliwon, sasih Kadasa, pratipadha sukla tanggal 1, candra sangkala maka parwata dik witangan yaitu Saka 928/1006M. Selanjutnya berparhyangan di Gunung Lempuyang sebagai pengempon Parhyangan Bethara Gnijaya.

Keempat Brahmana tersebut selain paham bidang Agama juga menguasai ilmu pemerintahan, politik, sosial dan budaya, oleh karena itu tahun 1007M Mpu Kuturan diangkat sebagai Senopati selain itu juga diangkat menjadi Ketua Majelis yang bernama “Prakira-kiran i jro makabehan” sumber lain menuliskan “Pakira-kiran I Jro Makabayan”, suatu lembaga tertinggi dalam pemerintahan Çri Gunaprya Dharmapatni-Udayana Warmadēwa. Anggotanya adalah dari seluruh aliran keyakinan yang ada antara lain Çiwa Sogata dengan tugas memberikan nasehat kepada baginda raja.

Untuk mengatasi ketegangan yang meningkat menjadi bentrokan-bentrokan Mpu Kuturan memprakarsai untuk mengadakan pertemuan atau sidang Majelis bertempat di Bataanyar. Pesertanya semua anggota Majelis ditambah pemuka kelompok aliran di dalam Agama yang ada, sehingga sidang merupakan pertemuan segitiga antara:

1. Kelompok penganut Budha aliran Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan
2. Kelompok penganut Çiwa disamping yang ada di Bali juga hadir utusan dari Jawa
3. Kelompok dari masing-masing sekte keyakinan yang ada dalam masyarakat Bali dijadikan satu kelompok.

Tempat pelaksanaan sidang Segi Tiga tersebut, sekarang dikenal dengan nama Samuan Tiga, ditempat itu sekarang berdiri Pura Samuan Tiga atau Samuan Telu. Disanalah paham Tri Murti kembali ditegakkan paham Çiwa dan Budha disenyawakan atas dalil yang berbunyi: “Ndatan len kita Çiwa rupa Budha, maka pati urip ikang Tri Mandala, sang sangkan paraning sarat ganal alit kita ala ayu kojaring aji, utpeti stithi linaning dadi kita kara nani paramartha Sogatha…….” dan seterusnya. Artinya: tiada lain Çiwa yang berupa Budha berkuasa menghidupkan sekalian mahluk penghuni tiga alam semesta (Tri Bhuwana, Bhur-Bwah-Swah), menciptakan dan memelihara baik buruk. Engkaulah yang mengadakan ajaran agama yang berpedoman nilai kelahiran, kehidupan akhirnya kematian…………..” dan seterusnya.

Sidang segitiga tersebut memutuskan 5 butir kesepakatan pokok yang mempunyai efek dan ekses positif dan luas, yaitu :

1. Paham Tri Murti atau Tri Sakti atau Tri Tunggal dijadikan dasar keagamaan yang telah mencakup seluruh paham dan aliran keagamaan yang berkembang di Bali waktu itu.

2. Pada setiap Desa Pakraman disepakati didirikan Bangunan Suci yang disebut Kahyangan Tiga sebagai tempat memuliakan dan memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya. Disamping keharusan adanya Pura di Sawah yang menjadi penyungsungan Krama Subak.

3. Pada tiap-tiap pekarangan rumah disepakati dibangun bangunan suci Rong Tiga yang kemudian dikenal dengan sebutan Sanggah atau Merajan.

4. Semua tanah pekarangan dan tanah yang terletak di sekitar desa dan di sekitar Pura Kahyangan Tiga adalah milik Desa, yang berarti pula milik Kahyangan Tiga tanah tersebut tidak boleh diperjual-belikan.

5. Nama Agama yang dianut oleh masyarakat Bali ketika itu disebut Çiwa Buda.

Tiga faktor utama yang mendorong keempat Mpu bersaudara tersebut datang dan berdiam di Bali yaitu:

1. Untuk memenuhi permintaan raja Gunaprya Dharmapatni-Udayana Warmadēwa yang memerlukan keahlian dalam bidang Adat dan Agama guna merehabilisasi dan menstabilkan daerah Bali yang mengalami goncangan akibat timbulnya ketegangan antar sekte.

2. Beliau sebagai Bhiksuka atau Sanyasa mengutamakan ajaran Dharma dari pada kepentingan pribadi dan keluarga.

3. Khusus Mpu Kuturan selain alasan tersebut di atas juga karena terjadi pertentangan dengan istri beliau yang kemudian dikenal dengan sebutan “Walu Natheng Girah”. Walu Natheng Girah artinya janda dari raja Girah, walu atau balu dalam bahasa Jawa Rondo, di Bali menjadi Rangda. Pernikahan Mpu Kuturan dengan istrinya itu menurunkan Dyah Ratnamanggali. Istri Mpu Kuturan mendalami ilmu hitam, sementara Mpu Kuturan pengamal ilmu kebajikan. Dari julukan istri Mpu Kuturan itu tersirat bahwa sebelum di dwijati Mpu Kuturan menjabat sebagai seorang raja di Girah.

PuraSamuanTiga
Pura Samuan Tiga, Gianyar

2. Çri Adnya Dewi (Saka 933-938/1011-1016M)

Çri Adnya Dewi memerintah di Bali dalam waktu cukup singkat yaitu 5 tahun, Saka 933-938/1011-1016M. Dari sebuah prasasti di Desa Jula Buleleng diperoleh informasi bahwa Desa Jula telah diserang musuh, akibat penyerangan tersebut dari 300 keluarga Desa tersisa 50 keluarga. Diantaranya ada karena mati dan ada pula tertawan musuh, karena itu Desa Jula dibebaskan dari pembayaran pajak oleh Ratu Çri Adnya Dewi. Prasasti serupa juga ditemukan di Desa tersebut yang dikeluarkan pada pemerintahan Çri Ugrasea Saka 844/922M. Pada waktu itu terjadi perang antara kerajaan Çriwijaya dengan kerajaan Jawa Timur, kembali terjadi tahun Saka 938/1016M ketika raja vasal Çriwijaya yaitu raja Kerajaan Wora Wari merebut keraton Dharmawangsa yang berakibat gugurnya Teguh Dharmawangsa. Pada prasasti Batu Calcuta tahun 1016M tertulis tahun Mahapralaya, mungkin saja api peperangan di Jawa Timur tersebut menjalar ke Bali.

3. Marakata Pangkaja Sthana Tunggadēwa (Saka 938-962/1016-1040M)

Nama lengkap Marakata adalah Dharmawangsa Wardhana Marakata Pangkaja Sthana Tunggadēwa. Memerintah Bali selama 24 tahun mulai tahun Saka 938-962/1016-1040M, selama pemerintahannya Mpu Kuturan dan saudara-saudaranya tetap pada jabatan seperti pemerintahan Gunaprya Dharmapatni-Udayana Warmadēwa. Tahun Saka 964/1040M tiba di Bali ekspedisi utusan raja Airlangga di bawah pimpinan Mpu Bharadah. Tujuannya menghadap Mpu Kuturan minta persetujuan penobatan salah seorang putera raja Airlangga sebagai raja Bali. Permintaan ditolak oleh Mpu Kuturan karena untuk dinobatkan menjadi raja di Bali sudah ada calon.

Prasasti pertama Marakata yang ditemukan berangka tahun Saka 944/1022M tertulis: “Makmitan kebwan paduka aji sang sidha lumah ring air weka” artinya, rakyat diperintahkan membersihkan makam raja Dharmodayana, memperbaiki Taman dan Parhyangan Baturan, untuk itu rakyat dibebaskan dari pajak. Pada hari raya Magha Mahanawami rakyat agar meladeni tamu yang berkunjung kesana, Desa Baturan sekarang Batuan diperkenankan memisahkan diri dengan Sukawati. Kepada rakyat tersebut ditugaskan memelihara Parhyangan atau Dharma tempat pertapaan yang terletak ditepi sungai Pakerisan. Tempat pertapaan tersebut mungkin disamakan dengan Taman Amarawati di India, yang akhirnya sebagai tempat abu jenazah Dharmodayana, Marakata dan Anak Wungsu. Dalam prasasti tersebut juga disebutkan tentang pertapaan Air Gajah (Goa Gajah).

Dalam prasasti-prasasti sapatha atau sumpah dari Marakata tersebutlah nama Maharsi Agastya dengan istilah Punta Hyang Agastya Maharsi sebagai pembukaan prasasti. Arca-arca Maharsi Agastya terdapat di Pura Siwi Kesihan Gianyar, Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng. Mungkin sekali merupakan dukungan Marakata dalam rangka para Pendeta mendirikan Antakunjarapada atau Asrama Kunjara. Marakata diperkirakan lahir antara tahun Saka 929-933/ 1007-1011M, dinobatkan menjadi raja pada umur 42 tahun dan memerintah sampai umur 70 tahun dengan mengeluarkan 22 prasasti.

4. Anak Wungsu (Saka 971-999/1049-1077M)

Prasasti berangka tahun Saka 971/1049M tertulis diantaranya: “Anak Wungsu ira kalih Bhatari lumah i Buruan, Bhatara lumah i Banu Wka” artinya: Anak bungsu dari ibu yang telah dicandikan di Buruan yaitu Gunaprya Dharmapatni dan ayah yang dicandikan di Banu Wka atau sungai oka yaitu Udayana Warmadēwa. Dalam sebuah pustaka kuno disebutkan antaralain: “wekasan ri saka 972 i sapajenengan sira anak wungsu, wijan ira Sang Ratu Gunaprya Dharmapatni mwang sang Ratu Dharma Udayana Warmadēwa, ikang puspa sariran ira sang Ratu karwa iki, cinandyaken mwah maring Asrama Amarawati i tepining Banyu Pakerisan, lemahing Tampaksiring, pinaka Bodhapaksa, apan Sang ratu iki wus wreda angalih agama Bodhapaksa. Ikang Asrama Amarawati, mangke ingaranan Gunung Kawi, i tepining banyu pakerisan.

Artinya: kemudian pada tahun Saka 972/1050M ketika bertahtanya Anak Wungsu, putera dari Sang Ratu Gunaprya Dharmapatni dan Sang Ratu Dharma Udayana Warmadēwa, abu dari Sang Ratu berdua ini, dicandikan di asrama Amarawati ditepi sungai Pakerisan daerah Tampaksiring, sebagai penganut Agama Budha, karena Sang Ratu ini sesudah tua beralih Agama menjadi penganut Agama Budha. Asrama Amarawati sekarang disebut Gunung Kawi, di tepi sungai Pakerisan.

PuraGunungKawi1

PuraGunungKawi2
Pura Gunung Kawi, tempat persemayaman abu Prabu Dharma Udayana Warmadēwa dan kedua puteranya, Marakata dan Anak Wungsu, Gianyar

Dalam prasasti anak Wungsu tercantum: “Paduka Aji Anak Wungsu nira kalih betari lumah i Buruan i banuweka” artinya: putera dari ibunya yang dicandikan di Buruan Kutri dan ayahnya dicandikan di Banyuweka. Dengan demikian Anak Wungsu adalah putera Gunaprya Dharmapatni dengan Dharmodayana Warmadēwa atau adik Airlangga. Marakata memerintah selama 28 tahun, dicandikan di Candi Tebing Gunung Kawi di tepi sungai Pakerisan tahun Saka 1001/1079M. Candi yang besar dari utara adalah Presada tempat menyimpan dyun atau jun atau periuk abu Raja Udayana atau Dharmodayana Warmadēwa di Çikara atau gapuranya tertulis huruf Bali kuno berbunyi “Aji lumahing Jalu”, Candi lainnya untuk abu Marakata dan Anak Wungsu di Çikaranya tertulis “Rua anak nira”.

Prasasti golongan A yang dibuat oleh raja-raja terdahulu untuk Desa Turunan yang kemudian menjadi Terunyan telah rusak, tahun Saka 971/1049M masyarakat Desa Terunyan memohon kepada raja Anak Wungsu untuk dibuatkan prasasti baru. Tahun Saka 971/1049M dibuatkan di atas lempeng tembaga yang isinya penduduk Trunyan mempunyai adat-istiadat yang tersendiri, hal itu telah diakui oleh raja-raja sebelumnya. Prasasti golongan B tidak diperbaharui karena adanya perselisihan antara Desa Trunyan dengan Desa Erbang, yang disaksikan oleh para punggawa tinggi, pendeta Çiwa dan Budha.

Dalam prasasti tahun Saka 983/1061M yang tersimpan di Desa Pandak Badung, isinya masyarakat Dharma Percaningayan yang memuja Bethara Bukit Hulumintang mohon dibebaskan dari pemujaan terhadap Bethari Mandul di Sukawana, Bethari Mandul adalah istrinya Anak Wungsu. Permohonan dikabulkan bila mereka tetap memuja Bethara Hulumintang. Dalam prasasti Sima Merayung tahun Saka 993/1071M tertulis bahwa Anak Wungsu memberikan jataka istilah sekarang pelaba Pura, berupa sawah yang ada disekitar Asrama Kunjara. Anak Wungsu mengeluarkan prasasti terakhir pada tahun Saka 999/1077M.

Antara tahun Saka 1001-1010 ada prasasti dikeluarkan tanpa angka tahun, prasasti itu menuliskan nama: “Çri Maharaja Walaprabu”. Berdasarkan nama-nama menteri dan punggawanya diperkirakan prasasti tersebut dikeluarkan sebelum Saka 1010/1088M, sekitar zaman pemerintahan Anak Wungsu. Tahun Saka 1010 ada prasasti yang dikeluarkan oleh Ratu Sakalendu Kirana, mungkin saja Çri Maharaja Walaprabu memerintah sebelum Ratu Sakalendu Kirana, sementara arti kata Walaprabu sesungguhnya sama dengan Anak Wungsu. Mungkinkah Çri Maharaja Walaprabu yang dimaksud adalah Anak Wungsu itu sendiri? Jika benar berarti tidak pernah ada pemerintahan Çri Maharaja Walaprabu di Bali dan raja inilah yang menggunakan gelar Çri Maharaja pertamakali di Bali.

Gelar Çri Maharaja adalah pengaruh dari kerajaan Sriwijaya atau Jawa Tengah ketika berada dibawah pemerintahan keturunan Syailendra. Mungkin saja Walaprabu adalah pengikut aliran Wisnu, mengingat ada prasasti yang berbunyi: “Tekayen pwa paduda Çri Maharaja Wisnu Murti saksat jagat palaka”. Raja selanjutnya pun seperti Sakalendu menggunakan nama yang berhubungan dengan nama Wisnu seperti Harimurti misalnya. Airlangga sendiri penganut aliran Wisnu terbukti lambang yang dipergunakan adalah Wisnu mengendarai seekor garuda. Mungkin saja pengaruh aliran Wisnu itu datangnya dari Airlangga yang kemudian berpengaruh kepada raja-raja Bali berikutnya. Aliran Wisnu di Bali terlihat sejak zaman Marakata menjadi raja.

5. Sakalendu Kirana (Saka 1020-1023/1088-1101M)

Nama lengkapnya adalah Paduka Çri Maharaja Çri Sakalendu Kirana Çana Guna Dharma Laksmi Dhara Wijaya Uttunggadēwi. Nama yang panjang tersebut mungkin saja sebagai penghormatan kepada leluhurnya. Kata Çana mengingatkan Wangsa Ishana yaitu Raja Sindok, Gunadharma mengingatkan keturunan Gunapryadharmapatni-Dharmodayana, Uttunggadewi mengingatkan Raja Marakata. Jadi berdasarkan nama tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa raja Sakalendu adalah keturunan dari raja-raja sesuai dengan nama yang tersebut di dalamnya. Ratu Sakalendu Kirana dipekirakan memerintah mulai Saka 1010-1023/1088-1101M, Prasasti yang tersimpan di Pura Pengelon Kintamani berangka tahun Saka 1020/1098M. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya sebuah perkara antara penduduk Desa Sukapura dengan penduduk Desa Guguran dengan menggunakan nama/gelar: ”Paduka Çri Maharaja Gon Karunia Pwa Swabhawa Paduka Çri Saksatnira Harimurti Jagatpalaka Nityasa”. Prasasti yang lain berupa salinan di atas lempeng perunggu tertera tahun Saka 1010/1088M. Di Desa Pengelon Kintamani Ratu tersebut terkenal dengan Ratu Pingit.

Dari prasasti berangka tahun Saka 1020/1098M diketahui adanya raja berkuasa di Bali bernama Sakala Indukirana Isana Gunadharma Laksmi Dharma Wijaya Utunggadewi. Juga dalam pustaka kuno ada kalimat berbunyi: “Kunang ri saka 1020, ri pajenengan ira Sang Ratu Çri Sakala Indukirana Isana Gunadharma Laksmi Dharma Wijaya Utunggadewi, sira ta sang Guru Bhujangga Waisnawa ngaran Mpu Atuk ingadeg aken Senapati Kuturan, amahayu sanagara Bali pulina”. Artinya: pada tahun Saka 1020/1098M, ketika bertahtanya Sang Ratu Çri Sakala Indukirana Isana Gunadharma Laksmi Dharma Wijaya Utunggadewi, beliau Sang Guru Bhujangga Waisnawa bernama Mpu Atuk dinobatkan sebagai Senapati Kuturan, yang menyebabkan aman dan tertibnya Pulau Bali.

6. Suradipa (Saka 1037-1041/1115-1119M)

Yang memerintah setelah Paduka Çri Maharaja Çri Sakalendu Kirana Çana Guna Dharma Laksmi Dhara Wijaya Uttunggadēwi adalah I Paduka Çri Maharaja Çri Suradipa. Raja Suradipa mengeluarkan prasasti sejak Saka 1037-1041/1115-1119M, menggunakan gelar “Gong Karunia Pwaswabhawaning Kadi Sira Prabu Saksatnira Harimurti Jagat Palaka Nitya Domaradhana”. Prasasti yang berangka tahun Saka 1037 atau 1115M menceriterakan perkara antara penduduk Desa Air Tabar dengan pertapaan atau Dharma Indrapura. Sebenarnya permasalahan tersebut pernah diputuskan pada zaman Singha Mandawa Saka 836/914M dan diulangi pada zaman Çri Wijaya Mahadēwi yaitu Saka 905/983M.

Dalam sebuah pustaka tertulis kalimat: “Mwah ri saka 1037, ri pajenengan sira Çri Suradhipa, hana sira ta sang Guru Bhujangga ngaran Mpu Ceken, ingadeg aken Senapati Kuturan. Wekasan Mpu Jagahita ingadeg aken Senopati Kuturan de Sang Prabhu.” Artinya: Dan ketika tahun Saka 1037/1115M, waktu bertahtanya Çri Suradhipa, ada seorang Sang Guru Bhujangga bernama Mpu Ceken yang diangkat menjadi Senopati Kuturan. Kemudian Mpu Jagahita yang dinobatkan sebagai Senopati Kuturan oleh Sang Raja.

7. Jaya Çakti (Saka 1055-1072/1133-1150M)

Pengganti Suradipa adalah Çri Maharaja Jaya Çakti, yang mengeluarkan prasasti sejak Saka 1055-1072/1133-1150M. Prasasti berangka tahun Saka 1068/1146M menuliskan nama raja: “Sira Prabu Saksatnira Wisnu Murti Muktyasa”. Juga diantaranya tertulis “Sirang Kecaiwan Mpung Kweng Dharma Anyar”, Dharma yang dimaksud sesungguhnya telah ada sejak zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu. Prasasti berangka tahun Saka 1055/1133M menuliskan nama raja Jaya Çakti. Selanjutnya prasasti Sading yang berangka tahun Saka 1072/1150M, terbuat dari 8 lembar tembaga berbahasa Bali kuno dan Jawa kuno. Mengisahkan penduduk suatu Desa karena banyak mempunyai hutang dan diserang semut sehingga warga desa meninggalkan desanya dan tinggal satu keluarga saja. Kata Sad Ing berarti tinggal sehingga lama kelamaan Desa yang ditinggalkan tersebut dinamakan Desa Sading. Isi prasasti Sading ini ada persamaannya dengan isi prasasti zaman pemerintahan Gunaprya Dharmapatni-Udayana Warmadēwa yang berangka tahun Saka 923/1001M.

8. Ragajaya (Saka 1077-1092/1155-1170M)

Dalam sebuah pustaka tertulis kalimat: “Kunang ri saka 1077, ri sapejenengan sira Çri Paduka Maharaja Ragajaya, Sira MpuAngdonamenang, ingadeg aken Senapati Kuturan ri Balirajya” yang artinya: pada tahun Saka 1077/1155M, manakala berkuasa dan memerintah Çri Paduka Maharaja Ragajaya, beliau Mpu Angdonamenang yang dinobatkan sebagai Senapati Kuturan.

9. Jayapangus (Saka 1099-1103/1177-1181M)

Jayapangus menjadi raja Bali setelah bersemadi di Setra Gandamayu dan mendapat wahyu agar masyarakat Bali tetap merayakan hari Galungan dengan segala upacaranya. Jayapangus pula yang memindahkan pusat pemerintahan dari Kahuripan ke Sikawana (Sukawana?) dengan sebutan Kuta Dalem setelah mendapat wahyu dari Bethari Durga.

Karena terjadi bencana alam maka pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke timur yaitu ke Desa Pingga yang diberinama Dalem Balingkang. Nama tersebut berhubungan dengan istri kedua beliau seorang puteri Cina bergelar Chung Kang. Dalam Usana ditulis, Çri Jayapangus dari istri pertama yaitu Puteri Danu berputera Danawa. Danawa inilah yang dihubungkan dengan Mayadanawa.

Dalam prasasti Campaga tertulis: “Tokyen warasanmata-anugraha sang almah ring Dharma Anyar mapangi Hari Prabu dinulur paduka Çri Maharaja Haji Jaya Pangus, bhatara makasilunglung ri dharmaraniya makadi Sira Haji Jaya Pangus”. Çri Maharaja Haji Jaya Pangus mengeluarkan 33 prasasti, prasasti yang pertama Saka 1099/1177M terdapat di Desa Mantering Gianyar di prasasti tersebut tertulis nama rajanya: “Paduka Çri Aji Jaya Pangus Arkajalancana Sahara Tyapatni Dwaya Paduka Bhatara Cri Pamameswari Induja Ketana Paduka Çri Mahadēwi Cacangkajacihna”. Arkaya berarti Surya Wangsa, Lancana dan Ketana berarti nama, bhatari permaisurinya yang pertama yang sudah meninggal, Induja berarti anak bulan, Cacangkaja berarti anak bulan atau kelahiran Candra Wangsa atau Soma Wangsa. Dalam bagian lain prasasti tertulis: “ Ikang sapta negara sawab bhawa ning kadi siraprabhu cakrawarti rajairaja-Bali dwipa mandala”. Cakrawarti bermakna Kaisar atau Maharaja, maksudnya pada zaman Jayapangus di Bali ada tujuh kerajaan atau pemerintahan dan Jayapangus sebagai Rajadiraja.

Nama pertapaan Ratna Kunjarapada terdapat dalam prasasti Jaya Pangus tahun Saka 1103/1181M. Kunjarapada artinya Asrama Kunjara yang terakhir atau yang terletak di batas, Dengan demikian asrama Kunjara ialah asrama yang terletak di perbatasan dalam rangkaian asrama-asrama Maharsi Agastya dari India sampai di Bali. Prasasti Desa Canggal tahun Saka 654/732M, tertulis: “Sima Kunjara Kunjai Desa Nihitam” maksudnya di Jawa terdapat tempat suci Rsi Agastya yang keadaanya sama dengan Kunjara Kunja Desa. Pada waktu itu Raja-raja Bali sebagaimana Raja-raja di Jawa adalah penganut dan pemuja Maharsi Agastya. Sebagai bukti Raja-raja Bali sampai zaman Jaya Pangus tetap memelihara Asrama Kunjara tersebut. Nama Goa Gajah itu diambil dari kata Kunyara, karena kunyara dalam bahasa Sansekerta berarti Gajah. Di Goa Gajah terdapat tulisan yang menurut Bernet Kempers tertulis “Kamon” dan “Sahya Wangsa”, bentuknya sama dengan tulisan dari abad ke 11. Oleh karena itu dikatakan goa tersebut merupakan tempat pertapaan dari zaman pemerintahan raja-raja Wangsa Warmadēwa. Maharsi Agastya adalah keturunan Brahmana yang berkebangsaan Arya, dynasti Agastya dimulai dari Maharsi Baradwaja, kemudian cucunya Maharsi Bhrigu, Parasurama termasuk Mahaguru Drona, Aswatama, Palawa, Agastya, Kaudinia dan Kundangga. Atas nama beliau-beliau itulah dibangun asrama Antakunyarapada.

Dalam sebuah pustaka tertulis: “Titanen ri saka 1103, hana Dalem i Balidwipa mandala, tos Waisnawa, abhiseka Çri Aji Jayapangus Arkajalancana, ngaran. Arkaja ngaran, tos Arka, Arka ngaran Suryawangsa, Surya Wangsa ngaran Hariwangsa, Hariwangsa ngaran Wisnwangsa, ya ta Waisnawa ngaraniya. Çri Aji Jayapangus angadeg Dalem i Balidwipa saha raja patni dwaya makadi Paduka Çri Parameswari Indujaketana mwah Paduka Çri Madewi Sasangkajacihna. Sabwaning kadi sira prabhu Cakrawarti rajadiraja, sekarjya rajalaksmi, pinaka ta pantraning bhwana satungkeb Balidwipa mandala……….” dan seterusnya.

Artinya, tersebutlah pada tahun Saka 1103/1181, ada seorang raja di pulau Bali, keturunan Waisnawa, dengan gelar Çri Aji Jayapangus Arkajalancana namanya. Arka menunjukkan keturunan Arka, Arka artinya Suryawangsa, Suryawangsa sama dengan Hariwangsa, Hariwangsa berarti Wisnuwangsa itu Waisnawa namanya. Çri Aji Jayapangus bertahta di Pulau Bali bersama permaisurinya dua orang yaitu Paduka Çri Parameswari Indujaketana dan Paduka Çri Mahadēwi Sasangkajacihna. Wibawanya bagaikan seorang rajadiraja, disertai permaisurinya sebagai penaung pulau Bali.

PuraPengukur-ukuran
Candi tempat pertapaan Çri Maharaja Haji Jaya Pangus, sekarang disebut Pura Pengukur-ukuran, Desa Sawa, Tampaksiring, Gianyar, Bali.

Pada tahun Saka 1112/1190M ketika zaman pemerintahan Jayapangus, Sang Rsi Çiwa dan Sogata berhasil membangun Parhyangan Sanghyang Widhi yang diberinama Candi Dasa. Pada hari Kemis Wage, wara Pujut, sekitar bulan Februari Çri Aji Jayapangus mangkat, abu jenazahnya dicandikan di Pertapaan Dharma Anyar, di tempat tersebut terdapat Pura Panti-Panti yang diempon oleh Dang Acarya Jiwaya.

10. Arjaya Deng Jayaketana

Pemerintahan raja Arjaya Deng Jayaketana diketahui berdasarkan tulisan pada sebuah pustaka yang berbunyi: “Walyan ikang kata, sira ta Aji Jayapangus awija ingaranan Arjaya Deng Jayaketana. Wus anwam wijan ira sira Çri Aji Jayapangus angungsi kanirwanan, ikang puspa sariran ira dinarmeng maring Asrama Dharma Anyar. Apan mangkana, sigra sira Arya Deng Jayaketana ingadeg aken ratu ing Bali, inabhiseka Çri Maharaja Çri Arjaya Deng Jayaketana. Wus genep yusan ira ta awiwaha, wekasan awija rwang siki laki-laki, ikang panuha ingaranan Ekajayalancana, mwah ikang anten ingaranan Adhikuntiketana Apan wus titah Hyang Widhi, Çri Maharaja Çri Arjaya Deng Jayaketana moksa, mulih ka Wisnubhwana”.

Artinya, Kembali dikisahkan, raja Jayapangus berputera yang diberi nama Arjaya Deng Jayaketana, dan sesudah dewasa puteranya itu lalu Çri Jayapangus mangkat arwahnya menuju ke Wisnuloka, jenazahnya dicandikan di Asrama Dharma Anyar. Oleh karena itu segera Arjaya Deng Jayaketana dinobatkan menjadi raja di Bali, dengan gelar Paduka Çri Maharaja Çri Arjaya Deng Jayaketana. Sesudah cukup usia lalu beliau menikah dari hasil pernikahannya lahir dua orang putera laki-laki, yang sulung bernama Ekajayalancana dan adiknya Adhikuntiketana. Karena sudah kehendak Ida Sang Hyang Widhi, Çri Maharaja Çri Arjaya Deng Jayaketana mangkat, arwahnya kembali ke Wisnuloka.

11. Ekajayalancana (Saka 1122-1126/1200-1204M)

Dalam sebuah pustaka tertulis: “Apan mangkana, sira wijan ira atuha ingadeg aken ratu, inabhiseka Paduka Çri Maharaja Aji Ekajayalancana, inemban de ibun ira Paduka Tara Çri Maharaja Çri Arjaya Deng Jayaketana. Pangadeg abhiseka ira ri saka 1122”. Artinya, oleh karena demikian, lalu puteranya yang sulung dinobatkan menjadi raja, dengan gelar Çri Maharaja Aji Ekajayalancana, didampingi oleh ibunya yaitu janda Paduka Çri Maharaja Çri Arjaya Deng Jayaketana, dinobatkan menjadi raja pada tahun Saka 1122/1200M. Rupanya beliau memerintah sekitar 4 tahun saja, karena mangkat tahun Saka 1126/1204M dan tidak mempunyai putera.

12. Adhikuntiketana (Saka 1126/1204M)

Dalam sebuah pustaka kuno diuraikan: “Mwah ri saka 1126 moksa ta sira Paduka Çri Maharaja Aji Ekajayalancana. Apan mangkana sigra antenira sang Adhikuntiketana ingadegaken ratu nyakrawrtining Balidwipa mandala, inabhiseka Sira Bhatara Guru Çri Adhikuntiketana. Sira angawe asrama mwah Parhyangan ri pulina Bali, makadi ring wates pangiduling karani Bangli, sira ngawe Parhyangan, ingaranan Parhyangan Sumaniha, inupa renga dening arca Makaradewi, ika kawuwus patirthan ira Bhatara Guru Çri Adikuntiketana mwah parameswarin ira ri kidulniya hana gua ingaranan Gua Mraku, pinaka patapan ira Dalem Bhatara Guru. Yan pira lawas ira Dalem Bhatara Guru anyeneng ratu ring Bali, moga awija sira karwa kembar buncing. Ikang laki-laki ngaran Sang Dhana Dirajaketana, mwang kang istri ngaran Sang Dhana Dewiketu. Riwus moksa Sira Bhatara Guru Adhikuntiketana, ikang puspa sariran ira dhinarmeng i Candri Manik Mandaleng Hyang Putih i Srokadan”.

Artinya, Dan pada tahun Saka 1126/1204M mangkat Paduka Çri Maharaja Aji Ekajayalancana. Oleh karena itu segera adik beliau Sang Adhikuntiketana dinobatkan menjadi raja berkuasa dan memerintah di Bali dengan gelar Bhatara Guru Çri Adhikuntiketana. Beliau membuat asrama dan Pura di daerah Bali dahulu, antara lain di batas selatan Desa Bangli, disana beliau membuat Pura diberi nama Pura Sumaniha dilengkapi dengan patung Makaradewi, itu dikenal sebagai petirthan atau upacara penghormatan terhadap Bhatara Guru Adhikuntiketana bersama permasurinya, di sebelah selatannya ada Goa yang bernama Goa Mraku, sebagai tempat pertapaan Dalem Bhatara Guru. Dalem Bhatara Guru berputera 2 orang kembar buncing, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki bernama Sang Dhana Dirajaketana dan yang perempuan bernama Sang Dhana Dewiketu. Sesudah mangkat Bhatara Guru Adhikuntiketana, abu jenazahnya dicandikan di Candri Manik didaerah Hyang Putih di Srokodan.

13. Masula Masuli

Tentang pemerintahan raja Maula Masuli diketahui dari dua sumber pustaka yaitu: Salah satu menuliskan demikian: “Apan wus tutug dewasaniya sang putera buncing ika, tumuli ta sang karwa wiwaha akna, ngaran binuncing aken, saha ingadeg aken ratu nyakrawarti ring Bali, inabhiseka Bhatara Parameswara Çri Wirama Nama Çiwaya Çri Dhana Dirajalancana, kalih raja wanitan ira Paduka Bhatari Çri Dhana Dewiketu. Mwah Sang rwa iki inucap aken Maheswara Maheswari ngaran, mwah inucap aken dewang Nusantara Mahasula Mahasuli ngaran mwah Masula Masuli. Ika linumbrah aken ri Bali mwang Nusantara, hanane ratu Masula Masuli, kateka tekeng mangke. Tan lingen pwa krethan ikang bhwana sapandiriyeng Çri Aji Masula Masuli, apan sira dibya guna widya, wicaksana, sukalaksana, tan kapinggingan ring sarwa tattwa, sudhira mwah widagdeng perang”.

Artinya: Karena sudah cukup dewasa putra buncing itu dinikahkan, disebut pabuncingan, serta dinobatkan menjadi raja berkuasa dan memerintah di Bali, dengan gelar “Bhatara Parameswara Çri Wirama Nama Çiwaya Çri Dhana Dirajalancana” dan ratunya ialah “Paduka Bhatari Çri Dhana Dewiketu”. Keduanya ini disebut Maheswara Maheswari namanya, Mahesora Mahesori namanya, dan orang Nusantara menyebutnya Masula Masuli. Itu yang lebih dikenal di Bali dan Nusantara sampai sekarang. Tidak dikisahkan bagaimana aman tertibnya Negara (Bali) selama bertahtanya Çri Aji Masula Masuli, beliau berpengaruh karena pandai, bijaksana, baik prilakunya, tidak kurang pengetahuannya dalam ilmu filsafat, berani dan menguasai ilmu peperangan.

Sumber kedua berupa satu cakep lontar Usana Bali yang menuliskan: “Mangke ucapang Ida Dalem Masula Masuli ri pawesmaniya ring Pejeng duk ika Dalem menawuhin Papatih Prapanca Para Mantri, mwah Sira Mpu Gnijaya, Mpu Smeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan mwang I Prabekel Bali. Hana arsanan Çri Bhupala ring sira Mpu kabeh mwah I Prabekel Bali pareng tataning Bandesa Wayah matemahan ebeking Pejeng, sa kuloning lwah Pakerisan, wetaning lwah Petanu. Duk ika hana wacanan Çri Bhupala, mangda ngaryanin Parhyangan Tirtha Mpul stanan Bhatara Hyang Indra, wenang tepasana. Mwang Parhyangan Mangening stanan Bhatara Hyang Suci Nirmala wenang Maha Prasadha Agung, kasukat olih Mpu Rajakretha, apapalihan makadya wetning astha kosali. Duk ika suka paraning wang Bali kabeh, angawe Parhyangan panembahan jagat kabeh, karajegin antuk Çri Aji Masula Masuli, mwah panjakne sami liang, sami kawulane padha mawedal paras, mwang raramon salwire, Batuh, Pejeng, Tampaksiring….dan seterusnya”.

Artinya: Sekarang dikisahkan Raja Masula Masuli di istananya di Pejeng, ketika itu Dalem memerintahkan Patih Prapanca, Para Menteri, Mpu Gnijaya, Mpu Smeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Prabekel Bali. Ada keinginan Baginda raja yang disampaikan kepada Para Mantri, para Mpu dan Prabekel Bali seperti keputusan Bandesa Wayah (pemerintahan terdahulu?) akibatya, menjadi penuh sesak di Pejeng, sebelah barat sungai Pakerisan dan sebelah timur sungai Petanu. Waktu itu sabda Baginda Raja agar dibangun Pura Titha Mpul sebagai stana (tempat) Bhatara Hyang Indra, harus diusahakan. Dan Parhyangan Mangening tempat Bhatara Hyang Suci Nirmala Patut Maha Prasadha Agung, diberikan ukuran (sikut) oleh Mpu Rajakretha (Mpu Kuturan) sesuai dengan konsep Astha Kosali. Ketika itu rakyat Bali semua dipimpin oleh Çri Aji Masula Masuli, seluruh rakyat merasa senang sehinga seluruh rakyat bersama-sama mengeluarkan padas dan bahan bangunan lainnya. Seperti rakyat Desa Batuh (Blahbatuh sekarang), Pejeng, Tampaksiring……… dan seterusnya.

Bagian lain lontar tersebut ditulis: “Hana arca Ghana wenang pengempon jagat, hana arca Budha, hana arca Indra, sarwaning Bhatara hana arcaniya, sarwaning Rsi hana arcaniya, sarwaning Widyadara Widyadari hana arcaniya, sahaning Bhuta mwang Dengen, mwah sarwa Sato, buron suku pat, suku ro, hana arcaniya karana hana surating arca ri kalaniya lepas, matemahan ebek Parhyangan Cri Aji Amutring Rat, kayun ta para Bhatara mayogha ri punang arca, pasembahan Cri Aji Dalem Buncing ri pemadegan Hyang Çiwa Budha, teka wenang pasembahan i para wang Bali kabeh. Sira Mpu Kuturan ingaranan sira Mpu Rajakretha, mahyun ta angawe Parhyangan kabeh, sane kagawa wite sakeng Majapahit, kaunggahang ring Bali kabeh……..” dan selanjutnya.

Artinya: ada patung Ghana sebagai pelindung dunia, ada patung Budha, ada patung Indra, setiap Bhatara ada patungnya, setiap Rsi ada patungnya, semua Widyadara Widyadari ada patungnya, semua Bhuta ada patungnya dan semua binatang yang berkaki empat, berkaki dua ada patungnya, ada patungnya karena ada tersurat ketika telah meninggal, akibatnya penuh istananya Baginda Raja yang memerintah, itu sebabnya para Bhatara berstana pada masing-masing patung, sebagai persembahan Çri Dalem Buncing, ketika berkuasanya Hyang Çiwa Budha, yang menjadi persembahan orang Bali semua.

14. Pameswara Çri Hyangning Hyang Adhidewalancana (Saka 1182-1208/1260-1286M)

Pada tahun Saka 1182/1260M puteri Cri Masula-Masuli yang bernama Adhidewalancana dinobatkan dengan gelar Çri Pameswara Çri Hyangning Hyang Adhidewalancana, namun tidak banyak diuraikan tentang raja tersebut. Pustaka lainnya mencatat: “Yan pirang warsa sira atemu tangan, hana wijan ira ngaran sira Adhidewalancana. Genep pwa ri yoghanta pada muksa sira teka ri atralaya. Mangkana katatwan ira. Apan mangkana, sigra puterin ira ingadeg aken Ratu, inabhiseka Paduka Bhatari Pameswari Çri Hyangning Hyang Adhi Dewalancana. Sira jumeneng ratu Bali Saka 1182”/1260M….. dan seterusnya. Artinya, Entah sudah berapa tahun lamanya beliau menikah lahirlah seorang putri yang diberi nama Adhi Dewalancana. Sesudah beberapa lama beliau berkuasa mangkatlah beliau dan arwahnya kembali ke Wisnuloka. Demikian kisah beliau Raja-Ratu Masula-Masuli. Oleh sebab itu puterinya dinobatkan menjadi Ratu dengan gelar Paduka Bhatara Pameswara Cri Hyangning Hyang Adhi Dewalancana. Penobatan menjadi Ratu di Bali pada tahun Saka 1182/1260M.

Serangan Prabhu Kerthanegara Raja Singhasari Saka 1208/1286M

Bagian lain pustaka tersebut tertulis: “Ri saka kala tanu wyat angalih arka, Saka 1208 sira Prabhu Krethanegara, motus pra yoghan ira ira anekani Balicumitan. Sang kautus mekadi, para Patih mwang Bahudanda, Ki Kebo Bungalan, Ki Kebo Anabrang, Ki Lembu Peteng, Ki Jaran Waha iniring de prajurit sregep dening sanjata, harep angrwek sang maka catraning bhumi Bali. Tan titanen lampah ira maring henu, tumuli tiba mareng sakraman kramaning Bali pulina. Saksana ebek tang para wadwa Bali pepareng ira wadwan Singhasari. Akweh wadwa Bali pejah, rug Desa-Desa ring Bali. Ndan tandwa kawenang ratuniya sira Çri Paduka Bhatara Parameswara Çri Hyangning Hyang Adhi Dewalancana, kahaniyang dedawan ira Prabhu Krethanegara, winaweng Singhasari, sakrama. Ngkana sira tinawan.”

Artinya: Pada tahun Saka 1208/1286M, Raja Krethanegara mengutus para pejabat kerajaannya ke Bali. Antara lain para Patih dan para pejabat kerajaan lainnya seperti Ki Kebo Bungalan, Ki Kebo Anabrang, Ki Lembu Peteng, Ki Jaran Waha dengan pasukan cukup banyak yaitu prajurit bersenjata lengkap, akan menyerang pucuk pimpinan pulau Bali. Tidak dikisahkan dalam perjalanan, sudah tiba dibeberapa tempat di Bali, dengan demikian menjadi ramai dan hebat peperangan yang terjadi antara rakyat Bali dengan pasukan Singhasari. Banyak rakyat Bali yang gugur, akibatnya menjadi rusak Desa-Desa di Bali, sedang Ratunya Çri Paduka Bhatara Parameswara Çri Hyangning Hyang Adhi Dewalancana ditangkap, kemudian ditawan oleh pasukan Raja Krethanegara, selanjutnya dibawa ke Singhasari disanalah beliau ditahan.

Bersambung…

ONG… _/\_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s